Tabungan Dalam Negeri



TABUNGAN DALAM NEGERI
Pendekatan pembangunan ekonomi yang menekankan tentang pentingnya proses pembentukan modal fisikal mungkin merupakan pendekatan yang paling populer, meskipun dalam dua dekade terakhir sudah banyak mengkritiknya. Hal tersebut disebabkan tiga hal yaitu : Pertama Jika dibandingkan dengan pendekatan-pendekatan lain, pendekatan ini mempunyai landasan teoritis yang cukup kuat, seperti ditunjukkan oleh Harrod-Domar yang menunjukkan hubungan antara pertumbuhan investasi dengan pendapatan nasional. Pandangan yang menganggap bahwa pembentukan modal merupakan faktor kunci bagi pertumbuhan suatu negara ini kemudian kita kenal sebagai aliran fundamentalisme modal     (capital fundamentalism).
Kedua adalah karena aliran fundamentalisme modal ini sejalan dengan tujuan-tujuan dan keinginan dari para donor bantuan-bantuan luar negeri atauasing pada era tahun 1950-an dan 1960-an. Keterbatasan modal dinilai sebagai hambatan pokok bagi percepatan pembangunan ekonomi di setiap negara. Selain itu, setiap kerangka perencanaan pembangunan diberbagai negara. Program tersebut menunjukkan betapa pentingnya modal awal dan perlunya suntikkan awal modal asing  (terutama dalam wujud bantuan luar negeri) yang cukup besar guna menpercepat pertumbuhan ekonomi.
Ketiga alasan lain mengapa aliran fundamentalisme modal ini bisa bertahan adalah karena kerangka kerjanya cukup fleksibel dalam memasukkan gagasan- gagasan baru dalam ilmu ekonomi, khususnya tentang konsep modal insani (human capital). Modal insani ini jika dibandingkan dengan stok modal fisikal, maka perbandingan tersebut sangatlah besar. Bahkan untuk beberapa negara maju, rasio antara modal insani dan modal fisikal bisa mencapai angka 1.1 .
Sebuah penelitian yang dilakukan di A.S menunjukkan bahwa nilai persediaan  modal insani ternyata sama dengan nilai persediaan modal fisikal. Hal ini merupakan kritik secara tidak langsung terhadap peranan modal fisikal dalam pembanguan ekonomi.






INVESTASI DAN PERTUMBUHAN EKONOMI
Studi-studi tentang kontribusi relatif dari modal terhadap pertumbuhan ekonomi masih sangat terbatasdi NSB dan kesimpulan dari hasil estimasinya pun kurang  begitu menyakinkan, karena keterbatasan data yang tersedia. Namun demikian, bukti-bukti empiris yang ada menunjukkan bahwa dampak pembentukan modal terhadap pertumbuhan ekonomi juga cukup baik di NSB, khususnya pada tahap-tahap awal pembangunan ekonominya.
Di sisi lain, pada tingkat pendapatan lebih tinggi, pertumbuhan produktivitas nampaknya jauh lebih penting daripada proses pembentukan modal, dan studi di beberapa Negara berpenghasilan menengah seperti Korea Selatan, Filipina, dan Meksiko menunjukkan bahwa pada tahun 1990-an pertumbuhan persediaan modal fisikal mampu memberikan kontribusi antara 0,25-0,30 dari pertumbuhan ekonomi, atau paling banyak sebesar 0,50 di NSB pada umumnya. Sayangnya, tidak saupun dari studi-studi tersebut yang memasukkan kontribusi modal insani terhadap pertumbuhan ekonomi yang hasilnya mungkin akan mengecilkan peranan pembentukan modal fisikal dan tabungan terhadap pertumbuhan ekonomi.
  1. Efisiensi Penggunaan Modal
Salah satu isu penting dalam pembangunan ekonomi suatu negara, khususnya di NSB adalah masalah efisiensi alokasi sumberdaya- sumberdaya ekonomi yang dimilikinya. Pembangunan ekonomi tanpa memperhatikan efisiensi alokasi sumberdaya ekonomi hanya akan menghasilkan pertumbuhan ekonomi yang tidak optimal karena terjadi pemborosan dalam alokasi sumberdaya- sumberdaya ekonomi yang ada. Dalam jangka panjang, pembangunan ekonomi akan terhambat karena efisiensi alokasi sumberdaya merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi ketahanan ekonomi suatu negara. Inilah arti penting dari efisiensi alokasi sumberdaya-sumberdaya ekonomi dalam pembangunan.  
  1. Rasio-rasio Investasi di NSB

Dalam beberapa hal penekanan perhatian  terhadap jenis investasi padat modal (capital intensive investment) yang sering dijumpain di NSB merupakan hasil yang tidak disengaja dari kebijakan pemerintah. Selain itu, hal tersebut dapat juga menunjukkan keyakinan bahwa hanya teknologi padatlah yang efisien, dan dalam setiap pemilihan teknologi tidak memperhitungkan harga-harga relatif antara tenaga kerja dan modal. Beberapa ekonomi (antara lain, Lawrence White) mengunngkapkan bahwa pemilihan teknik-teknik produksi di NSB umumnya tidak dipengaruhi oleh sinyal-sinyal harga.


Kebijakan-kebijakan yang menyebabkan adanya underpricing atas modal dan overpricing atas tenaga kerja nampaknya menyebabkan perusahaan-perusahaan dan pemerintah mengadopsi teknik-teknik yang lebih banyak modal dan kurang tenaga kerja.
Dalam situasi surplus tenaga kerja, pertumbuhan pendapatan perkapita riil sebesar 4 persen per tahun tidak bisa sepanjang waktu tanpa adanya rasio investasi sekurang-kurangnya 15 persen di dalam perekonomian yang menenkankan pada investasi yang bersifat padat tenaga kerja, dan 25 persen pada perekonomian yang menekankan pada investasi yang bersifat padat modal. Untuk menjamin rasioinvestasi sebesar 15 persen saja bukan merupakan hal yang mudah bagi sebagian NSB, khususnyanpada bberapa negara (selain India dan Cina) yang dalam kategori Bank Dunia termasuk negara yang berpenghasilan rendah.

Table 6.3
Tingkat Investasi dan Tabungan Domestik Menurut Kelompok Pendapatan
Kategori
Negara
Tabungan Domestik (% dari GDP)

1980  1990  2004
Investasi Domestik (% dari GDP)
1980  1990  2004
Celah
Sumberdaya

1980  1990  2004
Pendapatan rendah
    20      21    23
   16      18      22
     -5      -3       -1
Pendapatan menengah
    27      23    26
   28      26      28
      1        0        2
Pendapatan tinggi
    24      26    26
   23      22      19
      0       -4       -1
Tahun 1990 dan 2004





Sumber World Bank, Worid Development Indicators, beberapa edisi
Tabel 6.3 menunjukkan bahwa secara rata-rata negara-negara berpendapatan menengah telah mencapai rasio investasi yang lebih tinggi daripada negara-negara industri maju (berpendapatan tinggi) sejak tahu 1990. Rasio-rasio investasi yang relatif lebih tinggi tersebut dicerminkan oleh adanya tingkat pertumbuhan perdapatan per kapita yang relatif tinggi pula, tingkat pertumbuhan perdapatan per kapita riil tahunan untuk negara-negara berpendapatan menengah telah mencapai angka 3,8 persen selama periode 1996 sampai 1997 dan 2,8 persen untuk negara berpendapatan rendah, dan 2,2 persen pada kelompok negara-negara industri maju.




SUMBER TABUNGAN DALAM NEGERI
            Pada umumnya, NSB membiayai rasio investasi GDP mereka yang lebih tinggi dengan cara mengindefikasikan usaha-usaha mobilisasi tabungan dari berbagai sumber, baik tabungan domestic maupun tabungan luar negeri, tabungan pemerintah maupun tabungan swasta. Jumlah tabungan yang tersedia di suatu Negara (S) secara merupakan hasil akumulasi atas jumlah tabungan domestic (Sd) dan tabungan luar negeri (Sf) tabungan domestis dapat dibagi menjadi dua komponen, yaitu : 1. tabungan pemerintah (Sg) , dan 2. Tabungan swasta (Sp). Tabungan pemerintah itu sendiri terdiri dari tabungan anggaran  yang diperoleh dari surplus penerimaan pemerintah atas komsumsinya, di mana komsumsi pemerintah dapat didefinisikan sebagai keseluruhan pengeluaran pemerintahdalam bentuk uang plussemua aliran modal keluar (capital outflows) untuk pembelian peralatan-peralatan militer. Untuk Indonesia, contoh-contoh komsumsi pemerintah ini meliputi pengeluaran-pengeluaran untuk subsidi daerah otonom, subsidi pangan, gaji pegawai negeri dan angkatan bersenjata, perbaikan jalan-jalan dan jembatan dan pembayaran atas cicilan hutang plus bunga.
  1. Tabungan Domestik
     NSB sebagai sebuah kelompok telah mengintensifkan usaha-usaha mobilisasi tabungan sejak tahun 1980. Bagi sebagian kecil Negara kecenderungan haraga ekspor dari sumberdaya alam mereka cukup memberikan pengaruh yang signifikan pada kapasitas menabung mereka, misalnya Indonesia pada tahun 1980-an, tingkat komsumsi di beberapa Negara pengekspor minyak, termasuk Indonesia, tidak mampu mengimbangi kenaikan yang cukup dratis atas pendapatan ekspor mereka,karena melambungnya harga minyak setelah terjadi oil crisis pada tahun 1973.
    Kebijakan-kebijakan pemerintah juga mempunyai dampak yang cukup besar bagi kemampuan NSB dalam memobilisasi tabungan domestic mereka. Di beberapa Negara, yang pemerintahnya secara aktif berusaha menetapkan kebijakan fiscal dan moneter untuk mendorong pertumbuhan tabungan dengan menggunakan instrument-instrument kebijakan yang cocok untuk mencapai tujuan tersebut. Selain itu, banyak juga pemerintah di beberapa NSB yang memperhatikan peningkatan tabungan domestis mereka, tetapi masih mengandalkan pada instrument-instrument kebijakan yang kurang tepat dalam memobilisasi tabungan.
  1. Tabungan pemerintah

Pada umumnya tabungan pemerintah hampir seluruhnya diperoleh dari surplus atas penerimaan pajak secara keseluruhan terhadap komsumsi pemerintah (Sgb). Beberapa penelitian menunjukkan bahwa hanya ada sedikit sekali kasus dimana tabungan pemerintah dari badan usaha milik Negara (BUMN) yang memberikan kontribusi yang cukup besar bagi tabungan pemerintah secara keseluruhan. Peran tabungan pemerintah ini sangatlah kecil dan itu pun hanya terjadi di beberapa Negara saja. Oleh karena itu, pembahasan mengenai tabungan pemerintah dalam bagian ini dibatasi pada tabungan anggaran saja.

  1. Tabungan swasta

Hingga saat ini para ekonomi, pemberi bantuan ( donor ) dan para pembuat keputusan di NSB  masih beranggapan bahwa tabungan domestic swasta sebagai sumber dana kedua sesudah tabungan pemerintah dan bantuan asing dalam struktur pembiayaan investasi. Namun, banyak bukti empiris di sebagian besar NSB yang menunjukkan bahwa tabungan swasta ternyata memainkan peranan penting dalam menunjang proses pembentukan modal didalam negeri.
Di sisi lain, seiring dengan peningkatan pendapatan suatu Negara ada kecenderungan bahwa laju pertumbuhan komsumsi swastanya menjadi lebih lambat jika dibandingkan dengan laju pertumbuhan GDP-nya. Hal tersebut dapat kita ketahui dari data tahun 2004.

FAKTOR PENENTU TABUNGAN SWASTA

Perilaku Tabungan Rumah Tangga
  1. Dalam suatu Negara , pada suatu waktu tertentu, bagian pendapatan yang ditabung oleh rumah tangga yang berpendapatan lebih tinggi cenderung lebih besar daripada rumah tangga yang berpendapatan lebih rendah.
  2. Dalam suatu Negara, rasio tabungan rumah tangga cenderung konstan sepanjang waktu.
  3. Rasio tabuungan rumah tangga bervariasi antarnegara tanpa menunjukkan adanya hubungan yang jelas dengan pendapatan.




  












Share this

Related Posts

Previous
Next Post »